Misa Kampus I 2015

Misa Kampus I 2015

Jumat, 13 Maret 2015 – PRMK FSM mengadakan Misa Kampus (MisKam) pertama kalinya di tahun 2015 ini dengan tema “Berpuasa dan Berpantang”. Tema yang diambil ini disesuaikan dengan masa Prapaskah yang sedang dijalankan oleh umat Katolik di seluruh dunia. Misa kampus dimulai pukul 11.30 di ruang perkuliahan A103 dengan mengundang beberapa mahasiswa Katolik yang lainnya dari berbagai jurusan di Universitas Diponegoro yang berjumlah sekitar 90 orang yang mengikuti misa pada hari itu. Misa di pimpin oleh Romo Sadhyoko SJ dari Provinsialat SJ Semarang.  Saat pembacaan injil, romo membacakan injil dari Markus 12:28b-34 . Setelah pembacaan injil romo memberikan homili mengenai seputar injil dan tentang kebiasaan selama berpuasa dan berpantang. Pertanyaan pertama yang di lontarkan romo membuka homilinya adalah tentang “Apakah anda semua berpuasa dan berpantang?” lalu serentak beberapa peserta miskam yang datang menjawab “iya” dan beberapa lagi menjawab dengan tersenyum. Lalu romo bertanya lagi kepada kami “sudah hari keberapakah kita berpuasa dan berpantang?” dan beberapa peserta menjawab “3 minggu romo”, sekali lagi romo melontarkan pertanyaan yang sempat membuat beberapa diantara kami bingung untuk mencernanya “Jadi, masih 16 hari lagi berpuasa dan berpantang atau tinggal 16 hari lagi berpuasa dan berpantang?”. Selanjutnya romo mengutarakan tentang peraturan atau bagaimana cara berpuasa dan berpantang untuk saat ini atau bagaimana cara/kebiasaan berpuasa dan berpantang umat Tuhan saat dulu.

11046679_1014664798562525_295870673465990149_n

Kebiasaan berpuasa pada jaman sekarang ini karena terlalu mudah yaitu dengan peraturan berpuasa makan kenyang sekali dan tetap diperbolehkan makan sehari tiga kali serta wajib dilakukan pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung saja. Dan kebiasaan berpantang pada jaman sekarang ini dilakukan sesuai dengan yang akan dipantang setiap orang, seperti pantang makan daging, garam, pantang merokok, dll. Sering kali berpuasa dan berpantang terlupakan atau dilupakan atau dianggap terlalu gampang sehingga dilalaikan oleh umat Tuhan sekarang ini. Selain itu romo juga membahas tentang Syema atau perintah kasih yang diberikan atau telah dilakukan sejak saat dari jaman dulu. Oleh umat Israel Syema atau perintah kasih selalu dijadikan patokan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan beberapa umat Israel membuat filatelia atau meziza yang merupakan tabung kecil berisikan perintah kasih yang diletakkan di pintu rumah mereka agar dalam kehidupan sehari-hari mereka selalu menjalankan perintah kasih yang diberikan oleh Tuhan Allah.

Mengenai perintah kasih Tuhan Allah, romo mengatakan ada 3 rana yaitu hati, jiwa, dan akal budi. Rana yang pertama adalah hati, hati berkaitan erat dengan perasaan seseorang untuk melakukan sesuatu mengenai sesuatu yang baik dan buruk. Rana yang kedua adalah jiwa, jiwa berkaitan erat sebagai pusat kehendak seseorang, artinya setiap orang ketika akan melakkan sesuatu atau bertindak sesuatu pasti berdasarkan jiwanya. Rana yang ketiga adalah akal budi atau pikiran, akal budi berkaitan dengan bagaimana cara kita dapat melakukan penguasaan terhadap tindakan kita sehari-hari apakah itu mengandung kasih atau tidak, akan menyakiti orang lain atau tidak. Pada jaman sekarang ini, umat Tuhan tidak perlu lagi membuat atau menggunakan filatelia atau meziza untuk mengingat perintah kasih Tuhan Allah. Karena perintah kasih Tuhan Allah dapat dilakukan dalam kegiatan sehari-hari, karena kehidupan sehari-hari manusia saat ini merupakan tanda kasih kepada Tuhan Allah. Terutama pada masa prapaskah ini, kebaikan yang dilakukan oleh seseorang sebaiknya dilakukan dalam kesehariannya dan itu dilakukan berdasarkan kehendaknya, karena ketika seseorang telah tidak hidup lagi di dunia ini, dia hanya akan merasakan hasil dari tindakan kasih yang telah diajarkan Tuhan Allah melalui 3 rana yaitu hati, jiwa, dan akal budi. Dan romo juga mengingatkan kita bahwa apa yang biasa kita lakukan sehari-hari di dunia ini belum tentu dapat dan akan sesuai jika kita lakukan saat kita telah meninggal nanti. Dan orang-orang yang dulu memuji dan menghormati kita, tidak akan mungkin mau menerima kita untuk duduk bersama mereka setelah kita meninggal. Romo juga mengingatkan apa yang kita miliki baik rumah, villa, harta kekayaan, tempat mewah tidak ada yang akan menerima kita selain tanah di dunia ini saat kita akan meninggal. Sehingga tidak seharusnya kita bersombong dan mengatakan bahwa ini milikku, ini kepunyaanku, dll.

Maka teman-teman sekalian, orang kaya dan orang miskin selama hidupnya akan sama, yang membedakan hanyalah “apakah akan mendapatkan tempat di surga”, janganlah kita iri atau sombong satu sama lain tetapi sebaliknya, sebaiknya kehidupan kita dipenuhi oleh amal bakti kita. Agar kita memperoleh tempat di surga setelah kita meninggal di dunia ini, dan memperoleh hidup yang kekal bersama Tuhan Allah.
(Diani Ajeng Prahesti)

Leave a Reply